PROLOG

Sepuluh menit lagi, bus akan diberangkatkan. Dengan langkah berat, kunaiki bus jurusan Magelang – Surabaya ini. Kursi kedua dari depan akhirnya ku pilih untuk kududuki, di pojok jendela persisnya. Kulihat mereka, dengan senyum penuh harap dan sedikit kecemasan. Ku beri mereka senyuman dan ingin ku berkata “aku akan baik – baik saja.” Senyuman dan lambaian tangan yang mereka balas untukku, memberiku semangat untuk melakukan perjalanan panjang ini.

Jam sepuluh tepat. Bus mulai berjalan, sesak dada ini ketika melihat raut wajah ibu. Tampak kecemasan pada beliau. Bukan karena aku anak manja yang takut jauh dari orang tua. Tapi, aku tahu apa yang ibu cemaskan, seakan – akan kejadian tahun lalu akan terulang lagi. Dan aku akan membuktikan padanya, aku bisa dan tidak akan mengecewakannya.

“Solo pak,”, kataku pada kondektur bus patas yang kunaiki ketika ia menawarkan karcis padaku. Kubayarkan uang selembar dua puluh ribuan padanya, “kembalinya dua ribu ya mbak?”, katanya sambil memberikan uang kembalian itu. Cukup murah melakukan perjalanan bengan bus patas, delapan belas ribu sudah mengantar ku sampai Solo. Kuhabiskan waktu tiga jam di bus ini dengan melihat jalan dan tidur.

Yogyakarta, di terminal Giwangan. Penjaja kue – kue kecil dan Koran masuk, menawarkan dagangan mereka. Kutolak salah satu penjaja kue kecil itu, dengan gelengan kepala. “Ayo mbak, mau rasa apa?”, sambil memperlihatkan roti yang dibawanya dalam wadah bentuk lingkaran besar itu. Sepertinya gelengan kepala aku tidak membuat tukang kue itu pergi. “Enggak pak,” jawabku. Dan akhirnya tukang kue melakukan perjalannya lagi menuju kursi yang ada di belakangku.

Dua pemuda dengan berselempang gitar dan salah satu berbiola menarik perhatianku. “ Mereka bukan pengamen sungguhan,” kudengar orang dikursi belakangku memberitahu teman disampingnya. Rasa penasaran semakin bertambah, dan perhatian lebih aku tujukan pada mereka. Dua buah lagu mereka suguhkan dengan irama yang sangat bagus dan gamblang. Mereka sukses membawaku dalam dunia konser sungguhan dalam sepuluh menit. Dua lembar uang seribu rupiah aku keluarkan dari saku ku, itu kembalian dari ongkos perjalan ke Solo ini. Kumasukkan uang itu pada topi terbalik yang telah disodorkan pemuda itu. “Terima kasih mbak,” katanya sambil tersenyum. Ku balas senyumannya dengan anggukan kepala dan senyum puasku atas konser sepuluh menit tadi.

Kedua pemuda itu berlalu begitu saja setelah salah satu temannya memberi kode untuk turun. “Mereka itu anak kuliahan, anak ISI”, suara itu terdengar lagi. Orang dibelakangku masih berusaha memberikan penjelasan pada temannya. Seketika aku sadar, ternyata dua pemuda tadi anak terpelajar. “ Mba, kosong?”, seorang laki – laki sebaya dengan ayahku bertanya sambil menunjuk kursi disamingku. “Iya pak,”, jawabku.

Bus berjalan lagi meninggalkan kota Yogyakarta, menuju kota Solo. Kusiapkan tas yang tergeletak di bawah kursiku, karena perjalan ini akan berakhir. “Alhamdulillillah,”, aku turun dari bus itu sambil bernafas panjang.

~ by anyis on July 24, 2008.

Leave a Reply